Besarnya pengaruh Hoax di Indonesia
Setelah lama tidak aktif, kali ini
saya kembali dengan membawa keresahan yang sudah lama saya rasakan. Oke,
sebelum saya mulai membahas keresahan saya, saya ingin mengajukan beberapa
pertanyaan, dalam 1 minggu berapa kali anda mengakses sosial media? Dalam satu
hari berapa kali ada mengakses media sosial? Saat mencari informasi terbaru,
apakah anda menggunakan akses internet?kalau begitu pernahkah anda membaca
berita atau info yang bersifat S.A.R.A di media sosial? Belakangan ini
konten-konten yang tidak bertanggung jawab semakin mudah ditemukan diberbagai
media sosial. Instagram, Twitter, Facebook, hingga Youtube sudah menjadi
konsumsi sehari-hari pengguna gadget di indonesia. Menurut Kominfo.go.id
pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring
sosial.
Dulu mungkin kita hanya akan menemukan berita “hoax” di jejaring sosial
seperti facebook dan twitter, tapi sekarang anda akan menemukan banyak
akun-akun yang menyebarkan informasi yang berbau S.A.R.A di instagram bahkan
saat ini para reuploader Youtube semakin “kreatif” mugkin kalian sudah pernah
mendengar keluhan para youtube creator indonesia tentang banyaknya orang-orang
yang mengupload video yang bahkan bukan hasil buatannya sendiri yang hanya
bermodalkan “copy-paste”.
Belakangan ini para reuploader
semakin kreatif dalam mencari viewer, dengan tehnik “clickbait”. “clickbait”
disini adalah tehnik untuk membuat judul semenarik mungkin agar seseorang
tertarik untuk melihat content tersebut. Belum lama ini muncul beberapa content
di youtube yang merupakan reupload dan diberikan judul yang lebih menarik, yang
sebenarnya jika kita tonton contentnya, akan sangat jelas terlihat tidak ada
hubungan antara judul dan content itu sendiri.
Di Instagram banyak postingan
dari akun-akun yang bahkan berani menjelek-jelekan dan mengfitnah suatu Suku,
Agama, atau Ras yang akhirnya jika sudah banyak follower akan digunakan untuk
mencari uang melalui “paid-promote”. Mungkin beberapa dari kalian yang membaca
ini menganggap saya mengada-ngada. Cobalah buka youtube atau instagram dan jika
ada sebuah postingan dari seorang tokoh atau public figure indonesia pasti
besar kemungkinan akan ada comment yang isinya bersifat menghina. Mungkin ada
beberapa public figure yang layak mendapatkan kritik. Namun kritik yang
dilakukan haruslah memiliki dasar yang jelas. Kita tidak selayaknya mengatakan
seseorang pencuri kalau kita hanya mendengarnya dari gosip, Hal ini juga
berlaku di sosial media. Menurut saya kita tidak selayaknya membully atau
bahkan membenci seseorang karena informasi yang tidak jelas.
Sekarang bayangkan ada sebuah
informasi “hoax” di sebuah sosial media yang viral, bayangkan kalau informasi
tersebut diterima oleh setengah saja dari pengguna media sosial di Indonesia. Maka
akan ada sekitar 31,5 juta orang yang menerima
informasi tersebut. Sekarang bayangkan jika 31,5 juta orang
tersebut menerima informasi tersebut tanpa melakukan pengecekan kembali tentang
sumber atau keaslian informasi tersebut, apa yang akan terjadi selanjutnya? Ada
kemungkinan bahwa 31,5 juta orang tersebut menceritakan
informasi “hoax” itu kepada teman-temannya. dengan begitu 31,5 juta telah mempercayai dan menyebarkan informasi “hoax” tersebut.
Dalam sekejap di Indonesia sebuah informasi “Hoax” telah
menyebar di berbagai penjuru dan berbagai kalangan. Saya akan mengambil contoh
sederhana dari contoh kasus diatas, kita tentu masih ingat persaingan perebutan
antara 2 kandidat pada pemilihan presiden pada 9 juli 2014 lalu, persaingan
antar Bapak presiden ke-7 kita Joko Widodo dengan bapak Brabowo Subianto, kita
sama-sama tau banyak sekali fitnah yang beredar mengenai masing-masing calon,
sosial media mendadak dipenuhi dengan berita-berita tentang masing-masing calon,
namun tidak sedikit dari berita tersebut merupakan berita “hoax”. Berikut saya
akan memberikan sebuah link yang isinya adalah orang yang tidak hanya langsung
menerima informasi tanpa mengecek keasliannya tapi juga melakukan share
kembali.
Orang tersebut menerima informasi yang salah tentang
salah satu calon, lalu dengan bangga dan yakin (tanpa mengecek kembali)
membagikan informasi tersebut lagi di sosial media. Saat anda mencermati
tanggal sharenya (22-April-2014), tanggal tersebut cukup dekat dengan tanggal pemilihan
presiden(9 juli 2014) Saat anda mengakses sumber yang ia
berikan anda akan melihat tulisan bahwa domain tersebut dijual, jadi apakah
sumber tersebut bisa dipercaya? Sangat jelas jawabannya adalah tidak. Mungkin
ini hanya contoh sederhana dari sekian banyak kasus. Jika kita tidak berhati-hati
mungkin kita pun akan terkena dan
termakan oleh informasi “hoax”. Tidak hanya kita mendapatkan informasi yang salah, jika informasi “hoax”
tersebut kita sebarkan maka mungkin kita juga akan terlihat bodoh dimata orang
lain.
Ada hal-hal yang harus diperhatikan saat menerima sebuah
informasi baru, pertama perhatikan sumbernya, apakah itu dapat dipercaya? Apakah
itu adalah sebuah sumber yang memang dapat dipertanggung jawabkan? Jangan tertipu
hanya karena sumber tersebut berbau religius (seperti contoh diatas), bersifat
mendukung suatu Suku, ataupun suatu Ras. Sebuah sumber yang baik adalah sumber yang bersifat netral atau tidak berpihak pada
satu sisi. Jika memang menurut kita sumber tersebut sudah bisa dipercaya namun kita
masih belum yakin akan informasinya, kita bisa lakukan pengecekan informasi
dari sumber-sumber terpecaya. Intinya adalah kita harus lebih cerdas dalam
menyerap sebuah informasi, karena kita tidak tau seberapa besarnya pengaruh
informasi tersebut. nantinya.

Comments
Post a Comment